Secara tematik, pantun-pantun dalam buku ini mengangkat kearifan lokal Banyuwangi melalui lima subtema besar: seni dan pertunjukan, ritual dan tradisi, arsitektur dan tata ruang, kuliner dan pangan, serta hubungan manusia dan alam. Keseluruhan tema tersebut merangkai potret Banyuwangi secara utuh: dari denyut kesenian hingga lanskap alamnya, dari ritual adat hingga citarasa dapurnya.
Pantun seperti “Seblang Rumatan” dan “Barong Sumur” merepresentasikan kekayaan ritual dan kesenian yang bukan sekadar tontonan, melainkan sarat makna spiritual dan sosial. “Nggandrungi Gandrung” dan “Pacul Gowang dan Angklung Caruk” menghadirkan seni pertunjukan sebagai ruang ekspresi kolektif yang hidup di tengah masyarakat. Sementara itu, “Rujak Soto” dan “Ngicip Rasa Gawe Cerita” mengangkat kuliner sebagai penanda identitas sekaligus ingatan rasa yang melekat kuat pada Banyuwangi. Pantun “Banyuwangi Kutha Hang Asri” dan “Tanah Kelahiran” merekam relasi manusia dengan ruang dan alamnya—tentang tanah yang dirawat, dirindukan, dan dimaknai sebagai asal-usul.