Pada halaman buku ini, masa remaja tidak lagi berdiri sebagai angka, melainkan sebagai perjalanan batin yang senantiasa berdenyut. Kita akan bertemu dengan orang-orang yang pernah terpatahkan, namun memilih untuk tetap berjalan. Mereka yang sempat merasa gagal, lalu menemukan takdir yang lebih baik.
Ada yang mengejar cinta, hanya untuk akhirnya menemukan sahabat sebagai rumahnya. Ada yang ditinggalkan kekasih, lalu dipeluk kembali oleh hutan, sungai, dan suara keluarga. Ada kaki-kaki muda yang gemetar mendaki gunung pertama, dan di puncaknya mereka berjumpa dengan keberanian yang selama ini tersembunyi di dalam jati diri.
Ada pula kenangan hari terakhir, ketika gerbang bukan lagi sekadar pintu, melainkan batas antara yang pernah dan yang akan tidak akan pernah. Dan di kampung yang sederhana, anak-anak berlari di pematang sawah, menerbangkan layang-layang setinggi cita-cita, membuktikan bahwa mimpi tidak pernah bertanya dari mana ia dilahirkan.
Antologi ini adalah himpunan detak jantung tentang cinta yang tak terbalas, keluarga yang menguatkan, guru yang menuntun, sahabat yang tinggal, dan waktu yang tak pernah mau menunggu. Ia mengajarkan satu hal yang sama, bahwa menjadi dewasa bukan perkara umur, melainkan keberanian menerima, mengikhlaskan, dan tetap melangkah maju.
Di sinilah remaja-remaja itu bertumbuh.
Di sinilah kegagalan berubah menjadi rumah.
Dan di sinilah kenangan menemukan keabadiannya.