Antologi ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan potret jiwa dan napas zaman yang ditulis oleh para penyair Banyuwangi dari berbagai latar, generasi, dan pengalaman hidup, yang selama ini aktif menghidupkan ruang-ruang literasi dan kebudayaan kita. Banyuwangi dikenal sebagai “Bumi Blambangan”, tanah dengan kekayaan tradisi, bahasa, dan seni yang luar biasa. Di tengah derasnya perubahan zaman dan pesatnya kemajuan teknologi, kehadiran buku puisi ini menjadi pengingat bahwa akar budaya harus terus dipelihara. Puisi-puisi di dalamnya merekam denyut kehidupan masyarakat: tentang cinta dan rindu, tentang alam dan lingkungan, tentang sejarah dan tokoh-tokoh lokal, juga tentang kegelisahan sosial serta doa- doa yang dipanjatkan secara lirih di sudut-sudut kampung, pesantren, dan kota.