Zahra Aliya tidak pernah membayangkan bahwa satu keputusan sang ayah akan mengubah seluruh hidupnya. Dengan hati yang berat, ia meninggalkan keluarga, kampung halaman, bahkan mimpi untuk bersekolah di tempat yang diinginkannya demi menjalani kehidupan sebagai santri di Ma’had Amanatulloh. Zahra harus bertahan di antara tangisan malam, setoran hafalan, dan teror dari teman-teman jahil. Sakit, lelah, dan hampir menyerah, Zahra harus memilih, kembali ke zona nyaman atau mempertahankan kemuliaan yang perlahan ia temukan di balik tembok pesantren.
Apakah ia akan tetap menganggap pesantren sebagai tempat yang memisahkannya dari mimpi? Bagaimana ia mengubah tangisan menjadi senyuman?
“Mondok” adalah kisah tentang bagaimana Zahra bisa jatuh cinta pada jalan yang paling ia benci. Memahami satu hal bahwa jalan yang paling kita tolak justru membawa kita pada tempat yang paling kita butuhkan.