Page 209 - Adikku yang Lama Hilang itu Bernama Vieux Carre (Kumpulan Pentigraf) edit 1
P. 209
gemetar, “sesedih itu kah dia?” ujarku dalam hati. Aku pun
berkata kepadanya “Jangan bersedih bi” ujarku berusaha
menenangkannya. Tak lama mataku terasa berat napasku
terasa berhenti perlahan. Bibi semakin menangis melihat
kondisiku yang seperti ini. Tenyata saja aku tiba, semua
tetangga datang membantu mengurus pemakaman. Mereka
menguburkanku di dekat makam mama dan papa, sesuai
permintaan terakhirku kepada Bibi. Di atas makamku, bibi
menanam bunga mawar putih. Malam setelah pemakaman, bibi
pulang ke rumah yang sepi. Dia masuk kamar Lala, menangis
melihat lukisan yang penuh bintang. Semua bintang yang
digambar itu tampak menyala lembut. Dia duduk di kasur Lala,
memeluk bantal yang masih ada bau wangi Lala.
Beberapa hari kemudian, bibi menemukan kotak kayu di
laci lemari Lala. Di dalamnya terdapat surat yang ditulis oleh
Lala. Bibi membukanya dengan tangan yang gemetar. “Hai bibi,
jika kamu baca surat ini, berarti aku sudah pergi.” Bibi terus
membaca sambil menangis terisak. “Tapi jangan khawatir, aku
bukan anak yatim seperti yang engkau kira.” Bibi terkejut,
matanya melebar melihat kalimat itu. “Papa sebenarnya masih
hidup, dia cuma takut menghadapi kesalahan dia. Dia adalah
dokter yang mengobati aku di rumah sakit itu. Dia selalu
melihatku dari jauh, menyembunyikan wajahnya. Di akhir surat
ini ada nomor teleponnya, hubungi dia ya bibi. Aku ingin dia tahu
bahwa aku tidak pernah marah padanya.” Lanjut kalimat di
Pentigraf Lensa Banyuwangi | 167

