Page 215 - Adikku yang Lama Hilang itu Bernama Vieux Carre (Kumpulan Pentigraf) edit 1
P. 215
Pantulan Lima Huruf
Oleh : Zaneta Razwa Aradhana
Di tengah kota tua Semarang, toko buku kuno keluarga
Hana terkunci dari dalam. Di kaca depan terpampang lima
kelompok huruf: “BUKUN”, “SANGG”, “HARAP”, “JANJI”,
“SEMBU”. Hana yakin itu adalah pentigraf dari kakeknya yang
baru wafat. Dia mencari di rak “Buku Nusantara”, sudut
“Sanggar Baca”, lemari “Harta Karun”, bahkan melakukan ritual
sembahyang, tapi pintu tetap terkunci dan alarm misterius
berbunyi setiap kali dia salah mencoba.
Saat menangis di depan toko, dia melihat bayangan
tulisan di genangan air hujan yang terbalik. Ketika dibaca
secara terbalik keseluruhannya, muncul kalimat: “Ubud
Sembilan Jalan, Jangan Rapikan Ganesha, Kuburan Buku”.
Hana baru menyadari itu bukan pentigraf terpisah, melainkan
satu pesan yang hanya terbaca dari balik atau pantulan cermin.
“Ubud Sembilan Jalan” adalah kode untuk “lubang di
batu sembilan belakang kuil dekat toko”. Di sana dia
menemukan bukan harta karun, melainkan surat rahasia masa
penjajahan ternyata kakeknya adalah anggota perlawanan
yang menyembunyikan bukti korban yang hilang. “Ganesha”
adalah nama kode penyintas yang masih hidup, dan “Kuburan
Buku” adalah tempat menyimpan sejarah yang harus diajarkan
ke generasi muda.
Pentigraf Lensa Banyuwangi | 173

