Page 116 - Membaca Banyuwangi - Jalan Panjang Literasi V.1 rev
P. 116
yang berda di sekitar kawasan Sumur Sritanjung masih percaya
akan mitos yang telah menjadi turun temurun. Salah satu mitos
yang masih sangat kental adalah kepercayaan tentang wanginya
Sumur Sritanjung pada saat malam jumat legi, masyarakat juga
percaya air dari sumur ini memiliki energi spiritual yang mampu
memberikan ketenangan batin bagi siapa saja yang membasuh
muka dan meminum air dari sumur ini. Air dalam sumur ini juga
dipercaya tidak pernah surut walau musim kemarau melAnda.
Meski memiliki desain yang sangat sederhana sekali dan
auranya terasa sangat berbeda, semua itu menjadi salah satu
daya tarik bagi wisatawan untuk mengenal lebih jauh tentang
Sumur Sritanjung.
Di balik mitos yang beredar jika kita sedikit menoleh ke
belakang sejara Sumur Sritanjung menjadi alasan kota ini
bernama Banyuwangi. Sebuah kisah cinta, kesetiaan dan
kepercayaan merupakan tiga kata yang berperan penting dalam
sebuah silsilah. Kisah ini bermula dari kisah seorang wanita
bernama Sritanjung, istri dari seorang patih bernama Sidopekso.
Kehidupan yang begitu indah seketika berubah disaat sritanjung
harus menghadapi tuduhan tidak berdasar dari suami yang
termakan oleh fitnah. Dan disaat rasa di balut oleh amarah yang
tersisa hanyalah sebuah penyesalan. Sritanjung mengakhiri
hidupnya dan membuktikan bahawa dia tidak bersalah. “Jika
sungai ini berbau busuk aku memang bersalah, namun jika
sungai ini berbau wangi berarti aku tidak bersalah” itu adalah
kata terakhir yang Sritanjung katakan. Dan sejak saat itu aliran
sungai menjadi wangi. Maka dari sebuah legenda kita bisa
memahami bahwa kepercayaan merupakan pilar dari kehidupan.
Pemerintah banyuwangi terus berupaya mengangkat potensi
Sumur Sritanjung sebagai destinasi wisata budaya dan sejarah.
Pagelaran seni budaya juga kerap dilakukan di sekitaran area ini,
sehingga wisatawan dapat menikmati cerita rakyat ini dengan
86

