Page 181 - Membaca Banyuwangi - Jalan Panjang Literasi V.1 rev
P. 181

memperkenalkan jaranan, pada tahun 1963 Setro Asnawi yang
            berasal  dari  Trenggalek  menikah  dengan  orang  Banyuwangi.
            Setelah satu tahun di Banyuwangi Setro Asnawi menciptakan
            Jaranan  Buto.  Sulit  untuk  penggiat  jaranan  di  Banyuwangi
            menerima  Jaranan  Buto  pada  saat  itu.  Pada  akhirnya  sebuah
            kelompok  jaranan  di  Dusun  Cemetuk  Desa  Cluring  menjadi
            tujuan Setro Asnawi untuk menitipkan dan melestarikan Jaranan
            Buto.

            Di  Banyuwangi, Jaranan  Buto mengalami  perubahan  besar
            dalam  beberapa  dekade  terakhir.  Pada  tahun  2010,  Bupati
            Abdullah Azwar Anas pada saat itu, memperkenalkan sentuhan
            modern pada kesenian tradisional ini. Ini menciptakan identitas
            baru  yang  lebih  sesuai  dengan budaya  kontemporer
            Banyuwangi. Kostum dan tata rias penari kini lebih mewah dan
            berwarna.  Desain  kostum  menampilkan  identitas  lokal
            Banyuwangi. Penari kini mengenakan sosok Minak Jinggo, ikon
            budaya  daerah.  Elemen barongan juga  ditambahkan  untuk
            memperkaya pertunjukan. Transformasi ini tidak hanya tentang
            tampilan.  Gerakan-gerakan  tari jaranan  buto kini  memiliki
            makna  filosofis  yang  lebih  kontemporer.  Ini  memungkinkan
            pesan budaya dan identitas Banyuwangi relevan dengan zaman.
            Jaranan Buto saat ini tidak hanya menjadi sekadar pertunjukan
            tari   tradisional,   tetapi   juga   menjadi   sarana   untuk
            memperkenalkan dan memperkuat jati diri budaya Banyuwangi
            di  era  modern.  Perubahan  ini  menunjukkan perkembangan
            jaranan  buto di  Banyuwangi  lebih  dari  sekedar  teknis  dan
            estetika.  Ini  tentang modernisasi  tari  tradisional yang  sesuai
            dengan budaya  kontemporer  Banyuwangi.  Perpaduan  tradisi
            dan  inovasi  membuat jaranan  buto tetap  relevan  di  era
            globalisasi.

            Minak  Jinggo,  pahlawan  legendaris  dari  Banyuwangi,  sangat
            mempengaruhi jaranan        buto.    Penari      utama      di



                                                                      151
   176   177   178   179   180   181   182   183   184   185   186