Page 285 - Membaca Banyuwangi - Jalan Panjang Literasi V.1 rev
P. 285
Upacara ini biasanya dilaksanakan pada waktu tertentu,
biasanya pada musim panen, dengan tujuan agar hasil pertanian
yang didapatkan melimpah dan petani dijauhkan dari bencana.
Masyarakat yang ikut serta dalam prosesi ini mengenakan
pakaian berbentuk kerbau dan berlarian di tengah sawah dengan
penuh kegembiraan. Ada pula yang menyemarakkan dengan
menaburkan berbagai jenis tanaman atau bahan alami.
Pelaksanaan di Alasmalang Upacara Kebo-keboan di
Alasmalang secara umum dilaksanakan dalam tiga tahap. Tahap
pertama, berupa selamatan dengan 12 tumpeng, lauk-pauk,
jenang sengkolo, dan 7 porsi jenang suro Tumpeng itu kemudian
dimakan secara bersamaan di sepanjang jalan desa. Kedua, yaitu
mengarak 30 manusia kerbau mengelilingi empat penjuru desa
yang dipimpin tokoh adat. Di belakang arak-arakan manusia
kerbau ada kereta yang digunakan oleh Dewi Sri, yaitu lambang
dewi padi dan kesuburan. Tahap ketiga atau terakhir yaitu
penanaman benih padi oleh manusia kerbau. Sedangkan
pelaksanaan di Aliyan Pelaksanaan upacara Kebo-keboan di
Aliyan dilakukan dalam lima tahap. Pertama tahap persiapan,
yaitu pemasangan umbul-umbul di sepanjang jalan desa. Kedua,
yaitu membuat kubangan yang lokasinya disesuaikan rute arak-
arakan manusia kerbau. Kubangan melambangkan tempat
persemaian padi yang akan menghasilkan butir-butir beras.
Lebih dari sekadar ritual agraris, kebo-keboan mencerminkan
nilai-nilai sosial yang kuat dalam kehidupan masyarakat. Salah
satunya adalah gotong-royong, yang terlihat jelas dalam
persiapan dan pelaksanaan acara. Masyarakat bekerja sama
untuk menyukseskan tradisi ini, dari merancang kostum hingga
mempersiapkan makan bersama setelah acara. Proses kolektif
ini mengajarkan nilai kebersamaan dan solidaritas antar sesama,
yang semakin penting di tengah arus modernisasi yang sering
kali mengikis nilai-nilai tradisional. Selain itu, kebo-keboan
255

