Page 448 - Toponimi Wilayah di Kabupaten Banyuwangi
P. 448
SUMBERBENING
Oleh: Lukman Arif
Sumberbenig, terkenal di masyarakat tapi tak masuk dalam data
administratif. Walau demikian, masyarakatnya lebih bangga menggunakan
nama Sumberbening.
Sumberbening merupakan kawasan yang terdapat jalan alternatif selain
melewati jalan nasional yang terletak di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng,
tepatnya terletak di tiga RW, yaitu RW 4, 5, dan 6 Dusun Krajan satu Desa
Kembiritan, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi. Sedikit orang di luar
wilayah tersebut mengetahui bahwa sebenarnya wilayah tersebut adalah
Dusun Krajan satu, orang lebih mengenal itu adalah wilayah Sumberbening.
Berbatasan langsung dengan Dusun Kaliputih dan keduanya memiliki topografi
yang berbeda. Sumberbening cenderung datar dengan tanah berpasir,
sedangkan dusun sebelah (Kaliputih) memiliki kontur tanah yang berbukit dan
memiliki tanah merah berlumpur. Sumberbening dan Kaliputih dibatasi sebuah
sungai yang bernama Sungai Kaliputih dan dijadikan nama dusun yang dilewati
tersebut.
Hal yang menarik dari wilayah Sumberbening merupakan wilayah yang
dikenal oleh sebagian besar masyarakat di luar kampung tersebut, tapi secara
administrasi sebenarnya tidak ada nama itu, baik dalam administrasi
kependudukan (KTP) ataupun yang tertulis di administrasi desa. Bahkan orang
di luar wilayah Sumberbening tidak mengetahui bahwa Sumberbening itu
bukan sebuah nama dusun ataupun desa. Banyak orang memahami jika
ditanya mengenai alamat dan menyebutnya Sumberbening, maka orang pasti
mengerti alamat atau wilayah mana yang dituju, sampai-sampai nama asli
secara administrasi dari wilayah Sumberbening itu sendiri banyak orang yang
tidak mengetahui kecuali orang yang bertempat tinggal di situ.
Dulunya Sumberbening sekitar tahun 1960-an merupakan persawahan
dan perkebunan yang terkenal angker, mitos yang beredar setiap orang yang
melewati kawasan tersebut bisa kesambet (dalam bahasa Using) atau
kemasukan roh halus yang mengakibatkan kesurupan atau sakit nonmedis
diakibatkan gangguan mahluk halus penunggu kawasan tersebut tutur Mbah
Miswan, 79 tahun, warga asli dan santri dari penggagas nama Sumberbening.
Ada sebelas kepala keluarga asli suku Using yang tinggal di sana dengan rumah
sederhana dari gubuk bambu. Penghasilan masyarakat dengan bercocok tanam
di persawahan dan di kebun. Pemukiman itu dibuat agar lebih dekat dengan
pekerjaannya sebagai petani walau harus terisolasi dari warga yang lain. Dalam
istilah Jawa, ke sebelas kepala keluarga tersebut “ndarung” karena membuat
434

