Page 78 - Toponimi Wilayah di Kabupaten Banyuwangi
P. 78
Anehnya, sepanjang hari ia berdagang, tak satu pun pembeli tertarik pada buahnya. Ia
kebingungan, hingga seorang warga menasihatinya untuk mengembalikan batu tersebut
ke tempat asalnya. Tak lama setelah batu dikembalikan, dagangannya pun habis tak
bersisa.
Pohon beringin
Bukit bebatuan
Foto Surau peninggalan Ki Marto Joyo (Sumber: foto dokumentasi di Musholla Attaqwa,-)
Namun waktu terus bergulir, dan pembangunan menjadi tuntutan zaman. Pada
tahun 2001, musholla peninggalan Ki Kartojoyo direncanakan untuk diperluas dan
dilakukan rehab untuk kedua kalinya. Perbukitan diratakan, dan pohon beringin tua itu,
yang telah menjadi bagian dari napas desa selama ratusan tahun, harus ditebang.
Masyarakat dilanda dilema antara menjaga warisan leluhur atau menjaga keselamatan
jamaah dari kemungkinan bahaya pohon tumbang.
Penebangan pun direncanakan. Tiga mesin pemotong kayu dibawa ke lokasi. Aneh,
satu per satu mesin itu mogok, seperti ada kekuatan tak kasat mata yang menolak
perubahan. Ketegangan menyelimuti para pekerja. Hingga akhirnya, Abdallah bersama
para tokoh masyarakat mengambil langkah spiritual mengadakan selamatan tumpengan
dan berziarah ke makam Ki Buyut Jakso/Ki Martojoyo untuk memohon restu. Mereka
percaya, segala sesuatu harus dilakukan dengan adab dan permisi.
Dan benar saja. Esok paginya, mesin-mesin pemotong yang semula tak bergeming,
kini menyala tanpa masalah. Pohon beringin yang selama ini berdiri angkuh, akhirnya
tumbang dengan tenang. Tak ada suara aneh, tak ada angin ribut, hanya hembusan lirih
seperti bisikan perpisahan dari masa silam.
Dilihat dari konteks budaya lokal, Boyolangu juga tidak lepas dari sebuah wilayah
yang tetap setia menjaga nilai-nilai tradisi, budaya dan kearifan lokalnya di tengah arus
modernisasi saat ini. Puter Kayun namanya, sebuah ritual budaya wujud refleksi diri dan
64

