Page 145 - Toponimi Wilayah di Kabupaten Banyuwangi
P. 145
GOMBENGSARI
Oleh: Kristina Ayu Agustin
Gombengsari, desa dengan suasana yang sejuk, masyarakat yang ramah, dan letaknya
berada di kaki gunung Ijen. Ada apakah di sana?
Desa Gombengsari terletak di Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi.
Gombengsari yang memiliki luas wilayah 11,90 km2 dengan jumlah penduduk
sekitar 7.103 jiwa. Potensi sumberdaya alam yang dimiliki sungguh besar, mulai dari
lahan pertanian yang subur yang baik untuk ditanami berbagai jenis sayuran daun,
sayuran buah, padi, palawija, dan tanaman hias. Terdapat adanya Perkebunan kopi,
Taman Sumber manis Suko, wisata Puncak Asmoro, daerah pertanian, Wisata Pemandian
Gua Pengantin, Camping Ground menjadi bagian yang mempercantik Desa Gombengsari.
Dari potensi sumberdaya alam yang besar yang dimiliki desa Gombengsari, seharusnya
tingkat kesejahteraan masyarakatnya mampu lebih baik dibandingkan wilayah desa yang
lain. Kelurahan Gombengsari merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamata
Kalipuro Kabupaten Banyuwangi. Kelurahan Gombengsari terbentuk pada tahun 1999
yang merupakan hasil pemekaran dari Kelurahan Kalipuro. Adapun sebagian besar
wilayahnya yakni lahan pertanian serta perkebunan. mayoritas penduduknya bekerja
dibidang pertanian, perkebunan. Desa Gombegsari manjadi salah satu desa penghasil
Kopi terbaik di Banyuwangi.
Asal-usul nama desa ini bermula dari kisah seorang wanita yang berasal dari
Tabanan, Bali. Wanita ini bernama Ni Badung, seorang keturunan asli dari suku Bali. Ia
hidup di tengah masyarakat yang masih sangat memegang erat adat dan kepercayaan
leluhur. Salah satu kepercayaan yang dianut kala itu menyatakan bahwa jika sebuah
keluarga memiliki anak dalam jumlah kelipatan tertentu, maka salah satu dari anak
tersebut harus dikorbankan. Proses pengorbanan ini dilakukan melalui upacara adat yang
disebut “dibukur” — yaitu dibakar hidup-hidup — dan dilangsungkan selama tujuh hari
penuh sesuai dengan ketentuan adat setempat. Mengetahui bahwa dirinya adalah anak
yang akan dikorbankan, Ni Badung dilanda ketakutan dan kesedihan yang mendalam. Ia
pun memutuskan untuk melarikan diri dari rumah dan menjauh dari keluarga demi
menyelamatkan hidupnya. Hari demi hari, bahkan hingga berbulan-bulan lamanya, Ni
Badung menyusuri lebatnya hutan pesisir Bali. Dalam pelariannya itu, ia hidup dalam
persembunyian, menghindari kemungkinan ditemukan oleh orang-orang yang hendak
mengembalikan dirinya ke kampung asal.
Nasib mempertemukannya dengan rombongan Kyai Rahmat, seorang ulama dari
tanah Jawa yang saat itu tengah dalam perjalanan pulang menuju Blambangan
(Banyuwangi). Dengan penuh harap dan tangis, Ni Badung memohon kepada Kyai
Rahmat agar diperkenankan ikut bersama rombongannya. Ia merangkul kaki sang Kyai
sebagai bentuk permohonan yang tulus dan putus asa. Melihat ketulusan dan keberanian
131

