Page 27 - Toponimi Wilayah di Kabupaten Banyuwangi
P. 27
seminggu setelah Hari Raya Iduladha sebagai waktu pelaksanaan seblang,
tepatnya tanggal 15 Purnama di Bulan Haji. Mulai saat itu, seblang biasanya
diadakan pada hari Kamis malam Jumat atau hari Minggu malam Senin,
menyesuaikan dengan hari pelaksanaan Iduladha.
Setelah Mbah Kento meninggal, posisi penari seblang digantikan oleh
Mbah Agung Nyoman Dewi yang tidak memiliki hubungan darah dengan Mbah
Kento. Pada saat menjadi seblang, Mbah Dewi yang berasal dari Karangasem,
Bali, sudah menikah dan menjadi mualaf. Keturunan seblang kemudian
bercabang menjadi dua selepas wafatnya Mbah Agung Nyoman Dewi. Cabang
pertama dari keturunan Mbah Kento, kemudian yang kedua dari Mbah Agung
Nyoman Dewi. Dari garis keturunan Mbah Kento, lahirlah penari-penari seblang
lain, yakni Mbah Dewi, Winasi, Mbah Misnah, Mbah Supani, Mbah Isah, dan
Mbah Isni. Dari garis keturunan Mbah Agung Nyoman Dewi, menurunkan
penari seblang bernama Mbah Witri, Mbah Anjani dan Mbah Suhyati. Kisah ini
didapatkan oleh penulis setelah melakukan wawancara kepada ketua adat
(Heri Purwoko), juru rias (Ika), dan sinden (Rehana) yang ada dalam lingkup
Paguyuban Adat Desa Bakungan. Kini, pada tahun 2025, penari seblang yang
terpilih adalah Mbah Isni, cucu dari Mbah Dewi sekaligus Buyut Kento yang
berusia 53 tahun.
Upacara Adat Seblang Bakungan 2025 (Sumber: dokumen pribadi,-)
Berdasarkan cerita tutur tersebut, nama Bakungan yang disematkan pada
nama desa (sekarang berstatus sebagai kelurahan) berasal dari banyaknya
tanaman bakung (crinum asiaticum) yang tumbuh di sekitar pohon nogosari
saat para leluhur Desa Bakungan hendak melakukan babat alas atau membuka
hutan untuk yang pertama kalinya. Nama tersebut hingga saat ini masih
bertahan dari pengaruh eksternal, mengindikasikan betapa kuatnya peran ritus
sakral seperti seblang dalam mempengaruhi pola pikir masyarakatnya
13

