Page 282 - Toponimi Wilayah di Kabupaten Banyuwangi
P. 282

Kondisi alam yang subur inilah yang kemudian menarik para pendatang
            untuk  menetap  dan  mengolah  tanah,  menjadikan  kawasan  ini  berkembang
            menjadi desa yang  ramai seperti  sekarang. Pendatang tersebut berasal dari
            Madura.  Mereka  “membabat  alas”  atau  membuka  lahan  di  hutan  tersebut.
            Warga membuka lahan untuk dijadikan pemukiman. Kondisi daerah yang sering
            hujan,  membuat  tanah  di  pemukiman  warga  menjadi  licin.  Hal  tersebut
            membuat  warga  menjadi  terpeleset,  sehingga  warga  menyebut  daerah  itu
            Licin.
                  Hal ini selaras dengan informasi yang diberikan oleh mantan Kepala Desa
            Licin, Nanang Nurul Yaqin. Dari dulu hingga sekarang wilayah di barat (Licin)
            sampai  ke  timur  (Banyuwangi),  banyak  keturunan  Madura  pendatang  yang
            bermigrasi  ke  Banyuwangi  terutama  di  wilayah  Licin.  Salah  satunya  mantan
            kepala desa tersebut merupakan keturunan Madura tepatnya orang Sampang.
            Seiring  berjalannya  waktu  orang  Madura  di  daerah  ini  berasimilasi  dengan
            warga suku lainnya. Seperti dari suku Jawa, Bugis, Bali, dan Melayu, sehingga
            memiliki bahasa dengan dialek sendiri yaitu bahasa Using.
                  Nanang Nurul Yaqin atau biasa dipanggil Pak Haji Nanang, menjelaskan
            asal-usul dari wilayah yang awalnya hutan menjadi pemukiman yang bernama
            “Licin”. Licin berasal dari bahasa Melayu artinya halus tanpa ada permukaan
            kasar.  Kemudian  diucapkan  oleh  warga  madura  menjadi  lecen/letjen,  lunyu
            (dibaca: lunyau) dalam bahasa Using. Pemberian nama tersebut selain kondisi
            alami daerah juga ditandai dengan peristiwa yang terjadi.
                  Pada masa kolonial, setiap kali orang Belanda hendak menuju kawasan
            Kawah Ijen dari arah Banyuwangi, mereka pasti melewati wilayah Licin. Jalur ini
            terkenal karena medannya yang licin dan basah, terutama saat musim hujan.
            Tak jarang, para serdadu maupun kendaraan kolonial tergelincir atau terselip
            saat melintasi jalanan tersebut. Konon, karena sering terpeleset, para serdadu
            Belanda menyebut rute ini sebagai "daerah licin". Bahkan, seperti dituturkan
            oleh mantan kepala desa, ketika ada yang bertanya, “Mau ke mana?”, mereka
            menJawab, “Mau ke daerah licin.”
                  Masih  menurut  haji  Nanang,  lokasi  yang  sering  dianggap  sebagai  titik
            awal nama "Licin" adalah sebuah jalan menanjak di Dusun Krajan sebelah timur.
            Di  sanalah,  menurut  cerita  lisan  yang  berkembang  di  kalangan  masyarakat
            Madura, jalan licin itu membuat orang-orang mudah terpeleset, terutama saat
            hujan.  Saking  seringnya  tergelincir,  warga  Madura  yang  melintas  pun
            meluapkan kejengkelannya sambil berulang kali dengan kata “Letjen!” sebuah
            ekspresi  spontan  yang  kemudian  diyakini  turut  memengaruhi  penamaan
            kawasan  tersebut.  Dari  situlah,  nama  “Licin”  akhirnya  melekat  dan  menjadi
            identitas wilayah ini hingga sekarang.



            268
   277   278   279   280   281   282   283   284   285   286   287