Page 39 - Toponimi Wilayah di Kabupaten Banyuwangi
P. 39
Rondo Reni, Ia adalah seorang janda (rondo dalam bahasa Jawa) yang
ditinggal mati oleh suaminya. Meskipun hidup seorang diri, Rondo Reni dikenal
rajin bekerja dan selalu membantu sesama. Ia memiliki kebun yang luas dan
subur, tempat ia menanam berbagai macam tanaman untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya dan berbagi dengan tetangga yang membutuhkan. Suatu
hari, kemarau panjang melanda desa tersebut. Sungai-sungai mengering,
sumur-sumur surut, dan tanaman-tanaman layu. Penduduk desa mulai
kesulitan mendapatkan air bersih dan makanan. Rondo Reni, dengan kebaikan
hatinya, tak henti-hentinya berusaha membantu. Ia menggali sumur lebih
dalam, mencari sumber air tersembunyi di hutan, dan membagikan sisa
persediaan makanannya kepada para tetangga.
Namun, kemarau semakin parah. Persediaan air dan makanan semakin
menipis. Keputusasaan mulai menghantui penduduk desa. Rondo Reni pun
merasa sedih dan khawatir melihat penderitaan orang-orang di sekitarnya. Ia
berdoa kepada Sang Pencipta, memohon pertolongan agar desa mereka
kembali subur dan makmur. Suatu malam, dalam tidurnya, Rondo Reni
bermimpi didatangi oleh seorang lelaki tua berjubah putih. Lelaki itu berkata,
"Wahai Reni yang berhati mulia, pengorbananmu dan kepedulianmu telah
dilihat oleh Yang Maha Kuasa. Di puncak bukit di sebelah barat desamu, akan
tumbuh sebuah pohon yang akan memberikan kehidupan bagi seluruh
penduduk. Rawatlah pohon itu dengan baik."
Keesokan harinya, Rondo Reni terbangun dengan hati penuh harapan. Ia
segera pergi ke puncak bukit yang disebutkan dalam mimpinya. Betapa
terkejutnya ia ketika melihat sebuah pohon yang belum pernah ia lihat
sebelumnya. Pohon itu tinggi menjulang dengan batang yang kokoh dan daun-
daun yang rimbun. Dari batangnya, tampak cairan bening menetes perlahan.
Rondo Reni teringat pesan dalam mimpinya. Ia segera mengambil wadah dan
menampung cairan bening tersebut. Rasanya manis dan menyegarkan. Ia
membawa cairan itu kembali ke desa dan membagikannya kepada penduduk
yang kehausan. Mereka merasa segar kembali setelah meminumnya. Cairan itu
ternyata adalah air nira dari pohon tersebut.
Rondo Reni terus merawat pohon itu dengan penuh kasih sayang. Ia
menyiraminya, membersihkan sekelilingnya, dan menjaganya dari gangguan
hewan. Pohon itu tumbuh semakin subur dan menghasilkan nira yang semakin
banyak. Dari nira tersebut, Rondo Reni belajar membuat gula yang manis dan
makanan lain yang bisa disantap. Berkat pohon ajaib itu, desa tersebut kembali
makmur. Kekeringan berakhir, tanah menjadi subur dan penduduk tidak lagi
kekurangan air dan makanan.
Sejak saat itulah dikarenakan desa ini terletak di sepanjang Sungai atau
sistem irigasi serta lokasinya dilereng bukit dan merupakan daerah pertanian
25

