Page 55 - Toponimi Wilayah di Kabupaten Banyuwangi
P. 55

Pada  tahun  1969,  Desa  Segobang  dimekarkan  menjadi  2  desa,  Desa
            Segobang  dan  Desa  Kluncing.  Hingga  pada  tahun  2004,  Kecamatan  Glagah
            dimekarkan  menjadi  2  kecamatan  menjadi  Kecamatan  Licin  dan  Kecamatan
            Glagah. Setelah melalui proses pemekaran, akhirnya Desa Segobang memiliki 4
            Dusun  yang  tersisa,  yaitu  Dusun  Segobang  Timur,  Dusun  Krajan,  Dusun
            Srampon,  dan  Dusun  Karangsari.  Hingga  pada  tahun  1995  dan  dalam
            kepemimpinan Kepala Desa Mashudi, Dusun Segobang Timur berubah nama
            menjadi Dusun Banyucindih. Saat itu, Listrik telah masuk desa.
                  Desa Segobang sendiri memiliki asal dari suku kata “Se” yang artinya satu,
            dan “Gobang” yang merupakan mata uang pada masa penjajahan Belanda yang
            senilai  dua  setengah  sen.  Dusun  Banyucindih  dulunya  bernama  Dusun
            Segobang Timur, menjadi tempat penyetoran uang kepada pemerintah colonial
            sebagai  uang  pembukaan  lahan  baru.  Uang  yang  disetorkan  sejumlah  satu
            Gobang  (se  Gobang)  hingga  akhirnya  Kawasan  tersebut  terkenal  sebagai
            “Segobang”.  Lambat  laun,  akhirnya  orang  Banyuwangi  asli  mengetahui  jika
            Kawasan tersebut merupakan lahan yang subur dengan potensi daerah yang
            bagus,  didukung  system  pengairan  yang  melimpah.  Akhirnya,  mereka  mulai
            berdatangan dan menetap di sana hingga terbangun desa.  Pusat keramaian
            yang  awalnya  di  Segobang  Timur  sebagai  tempat  pembayaran,  kemudian
            berpindah ke Dusun Krajan yang berada di tengah-tengah pemukiman yang
            telah menyebar Dari Segobang Timur.
                  Sebagai daerah dengan lokasi grafis pegunungan dan potensi alam yang
            kaya, Segobang memiliki banyak sumber air, dan dilalui oleh beberapa sungai
            besar.  Sungai-sungai  tersebut  adalah  Sungai  Bungu,  Sungai  Kedawung  dan
            Sungai  Pakudo  yang  kemudian  bergabung  menjadi  satu  aliran,  dan  Sungai
            Patrang,  yang  kini  menjadi  tapal  batas  dengan  Desa  Pakel  yang  berada  di
            sebelah selatan Desa Segobang.
                  Warga  Dusun  Banyucindih  (yang  dulunya  bernama  Segobang  Timur)
            awalnya berasal dari perantauan asal Jowo Kulonan. Awalnya, masyarakat asli
            banyuwangi  tidak  berminat  untuk  bermigrasi  ke  lahan  yang  baru  dibuka
            tersebut. Kebanyakan dari mereka berasal dari Cirebon dan Begelan serta ada
            juga yang dari Ponorogo. Barulah Ketika Kawasan tersebut menjadi ramai dan
            memiliki potensi alam yang bagus, warga Banyuwangi mulai bergabung dan
            membentuk pemukiman yang meluas ke barat dan selatan.
                  Asal nama Banyucindih, tentu tak luput dari kejadian penting yang pernah
            terjadi di lokasi wilayah tersebut. Banyucindih berasal dari dua suku kata, yaitu
            Banyu dan Cindih. Dalam Bahasa Using, Banyu berarti air, bisa juga diartikan
            sebagai  sungai.  Dan  Cindih,  adalah  julukan  untuk  ular  sejenis  Sanca.  Konon
            menurut  Kepala  Dusun  yang  saat  ini  menjabat,  yakni  Tamyis  Hamdani  (50
            tahun),  dahulu  kala  ada  saluran  irigasi  yang  merupakan  sungai  besar  dan


                                                                                      41
   50   51   52   53   54   55   56   57   58   59   60