Page 139 - Toponimi Wilayah di Kabupaten Banyuwangi
P. 139

terendah adalah Desa Mojopanggung dengan ketinggian rata-rata 60  meter
            dari permukaan laut. Bila dibandingkan letak geografis Kecamatan Banyuwangi
            yang rata-rata hanya mencapai 30-37 mdpl, tentunya Kecamatan Giri termasuk
            dataran tinggi.
                  Penamaan  Giri  sebagai  salah  satu  kelurahan  dan  kecamatan  di
            banyuwangi tidak terlepas dari aspek geografis, sejarah dan tokoh. Dalam hal
            ini  penulis  merangkum  beberapa  sumber  data  buku,  jurnal,  wawancara,
            observasi serta cerita tutur warga dan tokoh setempat.
                  Secara etimologis kata "Giri" berasal dari bahasa Sanskerta: गिरि (giri),
            yang secara harfiah berarti: Gunung, Bukit, Ketinggian alam yang menjulang.
            Dalam tradisi India, gunung bukan sekadar bentuk geografis, melainkan juga
            memiliki makna spiritual dan sakral yang dianggap sebagai tempat para dewa.
            Makna  ini  kemudian  masuk  ke  dalam  tradisi  nusantara  melalui  pengaruh
            Agama Hindu-Budha sejak abad ke-4 M. Dalam budaya Jawa, istilah “giri” tidak
            hanya  merujuk  pada  tempat  tinggi,  tetapi  juga  tempat  yang  dianggap  suci,
            penuh kekuatan spiritual. (Soewito santoso: 1975)
                  Menurut penuturan Suhalik (65 tahun) warga di lingkungan Permata Giri
            sekaligus seorang pegiat sejarah, selain karena wilayah ini berada di dataran
            tinggi, asal usul penamaan Giri adalah dahulu ada seorang dari Walisanga yang
            berkedudukan di Gresik, Jawa Timur yang dikenal dengan julukan Sunan Giri.
            Nama  Asli  Sunan  Giri  adalah  Joko  Samudra  atau  Raden  Paku,  beliau  juga
            memiliki  beberapa  nama  lain  yaitu  Raden  Ainul  Yaqin,  Prabu  Satmata,  dan
            Sultan Abdul Faqih. Ketika sudah dewasa Sunan Giri membangun Giri Kedaton
            sebagai pusat penyebaran agama Islam di Jawa, sampai akhirnya Sunan Giri
            meninggal dan dimakamkan di desa Giri, kecamatan Kebomas, Gresik.
                  Sunan Giri adalah putra dari Maulana Ishak dan Dewi Sekardadu, seorang
            putri  raja  Blambangan  yaitu  Menak  Dedali  putih  atau  Menak  Sembuyu.
            Pertemuan mereka berawal dari diutusnya Maulana Ishak oleh Raden Rahmat
            (Sunan Ampel) untuk menyebarkan Islam di wilayah Blambangan yang pada
            masa itu merupakan kerajaan Hindu terakhir di Jawa. Ketika itu sang putri dewi
            Sekardadu  sedang  mengalami  sakit  parah  yang  tidak  bisa  disembuhkan.
            Prihatin dengan kondisi putrinya raja mengumumkan sayembara barangsiapa
            yang dapat mengobati sang putri, jika laki-laki akan diangkat sebagai menantu
            dan  jika  perempuan  akan  diangkat  sebagai  saudari  sang  putri  serta  berhak
            mewarisi separuh kerajaan Blambangan. Singkat cerita dengan kesaktian dan
            karomahnya,  Maulana  Ishak  berhasil  mengobati  sang  putri  dengan
            memberikan buah pinang untuk dikunyah.
                  Setelah sang putri sembuh, raja menepati janjinya dan menikahkan Dewi
            Sekardadu dengan  Maulana Ishak.  Namun seiring berjalannya waktu, ketika
            ajakan untuk masuk Islam sampai kepada sang raja, ia murka dan menolak.


                                                                                     125
   134   135   136   137   138   139   140   141   142   143   144