Page 524 - Toponimi Wilayah di Kabupaten Banyuwangi
P. 524
Acara Selametan (Sumber: dokumen juru kunci ke 3 Rama Supandi, 2024)
Salah satu bentuk penghormatan warga Dusun Watugepeng terhadap
leluhur mereka adalah dengan menggelar tradisi Selametan tahunan setiap
Jumat Legi atau Jumat Manis di bulan Dzulhijjah. Mengapa harus bulan
Dzulhijjah, bukan bulan lain? Pertanyaan itu pun hanya dijawab dengan senyum
tipis oleh sang juru kunci. “Lah itu yang belum tahu juga saya, saya di sini hanya
meneruskan saja, Mbak,” ujarnya. Sikap tawadhu’ seperti ini mencerminkan
warisan kebijaksanaan orang Jawa tempo dulu yang lebih memilih menjaga
bukan menguji, menerima bukan mempertanyakan secara berlebihan,
terutama pada hal-hal yang diyakini sarat makna.
Masyarakat membawa “ancak” wadah dari pelepah pisang khas orang
pedesaan yang berisi bubur lima warna, pecel pitik, ayam kampung, dan
berbagai makanan tradisional lainnya. Acara ini tak hanya ditujukan untuk
mengenang Ki Supani dan Nyi Supani, yang makamnya tak diketahui, tetapi juga
sebagai bentuk bersih Dusun dan doa keselamatan untuk warga seluruhnya.
Menurut keterangan dari juru kunci, Rama Supandi (50 tahun), terdapat
teori rakyat bahwa Watugepeng merupakan bersambung dengan Watu Dodol,
sebuah batu besar lain yang terletak di jalur pantai utara Banyuwangi. Hal ini
diyakini karena jenis batu dari keduanya mirip secara visual. Namun belum
pernah dilakukan penelitian arkeologis atau geologis untuk memastikan
hipotesis tersebut.
Satu hal yang bisa diyakini adalah bahwa lokasi Watugepeng dulunya
dilalui aliran lahar panas dari letusan Gunung Merapi Ungup-Ungup ratusan
tahun silam. Ini menjelaskan keberadaan batu tunggal besar di area yang
seharusnya kaya bebatuan, dan tanah di sekitarnya sangat subur.
Meski keberadaan batu pipih itu menjadi ikon yang melekat kuat dalam
ingatan warga, banyak kisah di baliknya masih tersimpan dalam kabut
510

