Page 45 - Jejak Rasa
P. 45

tahan. Untung saja tidak ada yang menyuruhku untuk berbicara berdua dengan laki-laki
          itu, karena mereka terlihat bergegas pulang setelah menungguku. Mungkin ada acara
          mendadak, mereka terlihat sangat menyesal tak bisa berdiam lama disini dan akhirnya
          mereka pulang.
            “Bapak, Ibu? Apa ini?“ Aku mulai meneteskan air mataku.
            “Mereka itu saudagar dari kota, Nduk! Dan Ramli adalah jodohmu, kau akan menikah
          de....“  Aku langsung berlari menuju kamarku saat bapak belum menyelesaikan kalimatnya.
          Aku berlari, terasa seperti akan jatuh. Ku tutup pintu kamar dengan kerasnya dan aku roboh
          di atas kasurku. Air mataku mengalir bagai aliran deras sungai, dadaku sangat sakit sekali,
          pikiranku terus tertuju pada Arman. Bapak mencoba untuk membuka pintu, mgengetuknya
          dengan keras, tapi tak kudengarkan karena aku tak bisa mendengar apapun.   Apa Arman
          tau tentang ini? Apa ibu sudah bercerita pada ibunya Arman? Apa mereka tahu tantang
          perjodohanku? Mengapa ibu bungkam tentang ini?  Pertanyaan-pertanyaan itu terus ber-
          putar-putar di kepalaku, menambah rasa sakit ini. Lalu...
            Kepalaku terasa sangat berat sekali, seperti ada batu yang diikatkan di kepalaku, aku
          merasa sangat lelah sekali. Tak bisa kubuka mata, ataupun keinginan untuk bangun, aku
          lelah. Sangat lelah. Kemudian kurasakan tangan lembut ibu mengelus kepalaku, ku harap
          ini akan mengambil batu yang mengikat kepalaku itu.
            “ Rima, bangun, Nduk! Bangun sayang!“  Suara lembut ibu sedikit menghilangkan
          rasa berat di kepalaku dan elusan tangannya mulai menguatkan mataku yang berat untuk
          dibuka, dan lelahku ...
            “Nduk, maafkan ibu karena tidak menceritakan hal ini sebelumnya, kau tahu Bapakmu
          kan? Tadi pagi Arman dan orang tuanya kemari untuk melamar kamu. Bapakmu tanpa
          berfikir panjang langsung mengatakan bahwa kau sudah dijodohkan.“
            Aku seperti mendapat kekuatan untuk tiba-tiba bangun dan menatap ibuku tajam.
            “Arman seperti putus asa, lalu ibu diam-diam mencoba menjelaskan pada mereka
          tentang Bapakmu. Yakinlah, nak. Allah akan berpihak padamu!”
            Aku mulai memeluk Ibu dan mulai menangis lagi. Kupeluk erat tubuh ibuku tanpa
          mengatakan apapun, dan Ibuku hanya diam, terus menenangkanku.
            Selama dua hari setelah bapak mendatangkan jodoh dari kota itu, aku tak pernah
          keluar kamar. Selama dua hari tak pergi ke warung. Yang kulakukan hanya diam dan diam
          dikamar. Rasanya setiap hari, kabut hitam gelap mengelilingi kamar ini. Tak kurasakan
          udara sejuk pagi dan sinar hangat mentari selama dua hari itu di dalam kamar ini. Seakan
          semua menghilang tertelan kabut hitam yang terus bertahan, berputar-putar. Aku sakit,
          benar-benar sakit. Tiba-tiba, Ibu memasuki kamar, dan berkata,
            “Kunci pintu dan bicaralah padanya, Nduk !”
            Aku sama sekali tak mengerti apa maksud ibu, aku hanya menurut saja, dan mengunci
          pintu.
            Beberapa saat kemudian, seseorang memanggil namaku dari jendela.
            “ Rima, buka jendelanya!” seperti suara Arman Ini masih pagi, dan aku mulai berhayal?
          Aku sakit, benar-benar sakit.
            “ Rima, buka jendelanya! Ini Arman, Rima.”
            Dengan panggilan itu, aku sadar bahwa aku tidak berhayal. Aku langsung membuka
          jendela kamar, dan ternyata benar saja, itu adalah Arman. Dia masuk dan,
            “ Armaan? Aku, aku minta maaf, Bapakku, aku...“
            Aku melihat Arman, menangis sambil berusaha mengatakan sesuatu, tapi aku tak tahu
          apa yang sebenarnya ingin kukatakan.
            “ Tenang! Aku disini Rima. Kita akan hadapi sama-sama, ya. Kita cari jalan sama-sama
          untuk ini.”
            Bukannya tenang, tapi air mataku terus saja meluncur mendengar Arman mengatakan
          itu, ia terus berusaha menenangkanku dan aku berusaha memiliki keberanian untuk tetap
          kuat. Arman menghiburku dan kami mulai berbicara seakan tidak terjadi apa-apa. “Mungkin
          ini maksud Ibu, agar aku berbicara dengan Arman.“ dalam hatiku berkata.
                                       44
   40   41   42   43   44   45   46   47   48   49   50